Pegiat Alam Jepara Tanam Ratusan Pohon di Jalur Air Terjun Banyu Anjlok
JEPARA, Para pegiat lingkungan menginisiasi aksi pemulihan ekosistem dengan menanam ratusan bibit pohon di jalur rawan longsor menuju wisata Air Terjun Banyu Anjlok, Dukuh Sewengen, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Minggu (19/4/2026). Aksi gotong royong ini menjadi langkah perlindungan krusial untuk mencegah bencana susulan di kawasan lereng Pegunungan Muria.
Kegiatan pelestarian ini lahir sebagai respons konkret atas musibah tanah longsor yang sempat menerjang kawasan tersebut pada Januari lalu. Selain memulihkan ekosistem, gerakan penghijauan ini sekaligus digelar untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Jepara ke-476 serta menyambut Hari Kartini 2026.
Menariknya, reboisasi atau penghijauan kembali ini tidak sekadar berfokus pada aktivitas menanam bibit semata. Acara reboisasi tersebut dikemas secara interaktif layaknya tour guide, di mana para peserta dibekali kemampuan bertahan hidup (survival) di alam liar serta edukasi mendalam mengenai fungsi ekologis ragam tanaman.
Rehabilitasi Menggunakan Pohon Ficus dan Pohon Salam
Ketua panitia sekaligus pegiat alam, M. Ainul Muttaqin menjelaskan, bibit yang ditanam pada akhir pekan tersebut mencapai 140 pohon. Penanaman difokuskan pada jenis pohon ficus, salam, dan tabebuya yang dinilai sangat ampuh untuk mengikat struktur tanah basah.
“Penanaman difokuskan di area air terjun dan titik longsor. Jenis pohon yang dipilih punya fungsi menjaga resapan air dan memperkuat struktur tanah,” jelasnya.
Aksi solidaritas ini melibatkan 50 peserta dari lintas komunitas. Mereka berasal dari Jepara Green Generation (Jegeg), Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jepara, Book Club Jepara, gabungan komunitas pendaki, hingga petugas lapangan Perhutani.
“Kami ingin kegiatan seperti ini terus berlanjut, fokus pada ekowisata berkelanjutan, dan memunculkan lebih banyak orang yang peduli pada lingkungan,” kata Ainul.
Dukungan Penuh Perhutani Lindungi Hutan Muria
Inisiatif positif kaum muda ini mendapat respons hangat dari otoritas kehutanan setempat. Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Batealit, Nur Hamid, sangat mengapresiasi tingginya kepedulian masyarakat sipil dalam menjaga kelestarian wilayahnya.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih. Ini bentuk kepedulian pecinta alam dan aktivis lingkungan terhadap hutan lindung Muria,” ujarnya.
Lokasi penghijauan tersebut secara administratif masuk ke dalam kawasan Petak 64 RPH Batealit, di bawah naungan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Muria Patiayam, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati. Total hamparan kawasan hutan negara di wilayah tersebut tercatat mencapai sekitar 1.810,36 hektare.
Menyoroti jenis bibit yang ditanam oleh para pegiat alam Jepara, Nur Hamid membenarkan bahwa tanaman yang dipilih memiliki rantai manfaat yang saling berkesinambungan bagi kelestarian flora maupun fauna Pegunungan Muria.
“Pohon Ficus itu bisa menyimpan air, demikian juga pohon salam yang bagus untuk resapan. Daunnya bisa untuk obat dan masakan, buahnya juga dimakan burung. Jadi manfaatnya tidak hanya untuk manusia, tapi juga menjaga ekosistem dan rantai makanan,” jelasnya.

