Fokus Perkuat Layanan Kesehatan pada Muswil IDI Jatim 2026
Gresik - Kabupaten Gresik kembali dipercaya menjadi tuan rumah agenda strategis tingkat provinsi. Kali ini, Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Timur Tahun 2026 digelar di Hotel Aston Gresik dan menjadi forum penting membahas penguatan layanan kesehatan, pemerataan dokter spesialis, hingga persoalan kesehatan mental generasi muda.
Muswil yang berlangsung mulai Jumat hingga Minggu itu dibuka langsung Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, Minggu (10/5/2026), serta dihadiri jajaran pengurus pusat dan wilayah IDI dari seluruh Jawa Timur.
Bupati yang akrab disapa Gus Yani itu menilai forum Muswil tidak sekadar agenda organisasi profesi, tetapi juga ruang strategis memperkuat sinergi pemerintah dan tenaga kesehatan dalam menjawab tantangan pelayanan kesehatan masyarakat.
“Organisasi sebesar IDI mampu menunjukkan proses demokrasi yang hidup, dinamis, namun tetap menjunjung tinggi etika dan profesionalitas,” ujar Gus Yani.
Menurutnya, IDI merupakan mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun sistem kesehatan yang semakin kuat, merata, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Pemkab Gresik, lanjutnya, terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan, salah satunya melalui program pembiayaan pendidikan dokter spesialis menggunakan APBD.
Program tersebut diprioritaskan untuk menjawab kebutuhan dokter spesialis di wilayah dengan keterbatasan layanan kesehatan, terutama kawasan kepulauan seperti Bawean.
“Kami menyiapkan pembiayaan pendidikan dokter spesialis secara gratis melalui APBD, dengan harapan setelah lulus para dokter ini kembali mengabdi di daerah yang membutuhkan, khususnya Bawean,” tegasnya.
Gus Yani mengakui distribusi dokter hingga kini masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Karena itu, kolaborasi pemerintah daerah bersama organisasi profesi dinilai menjadi kunci memperkuat pemerataan layanan kesehatan.
Selain isu distribusi tenaga medis, Bupati Gresik juga menyoroti meningkatnya persoalan kesehatan mental, khususnya di kalangan anak muda.
Menurutnya, fenomena tersebut membutuhkan penanganan serius dan kolaboratif lintas sektor agar tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih besar.
“Fenomena gangguan kesehatan mental pada usia muda kini menjadi tantangan nyata. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan kolaborasi erat bersama IDI untuk menjawab persoalan ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua IDI Wilayah Jawa Timur, dr. dr. Sutrisno, Sp.OG(K), mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Gresik terhadap pelaksanaan Muswil IDI Jatim 2026.
Ia menyebut Jawa Timur selama ini dikenal sebagai wilayah dengan solidaritas organisasi profesi yang kuat. “Setiap agenda besar IDI, kabupaten dan kota di Jawa Timur selalu antusias menjadi tuan rumah. Ini menandakan kekuatan organisasi yang luar biasa,” katanya.
Sutrisno memaparkan, saat ini Jawa Timur memiliki lebih dari 21 ribu dokter yang terdiri atas sekitar 16 ribu dokter umum dan lebih dari 6 ribu dokter spesialis yang tersebar di sekitar 450 rumah sakit.
Meski demikian, pemerataan tenaga kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Di sejumlah wilayah masih terjadi kekurangan dokter, sementara di sisi lain banyak dokter muda belum memperoleh penempatan kerja tetap.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah terus membuka ruang penyerapan tenaga medis agar pelayanan kesehatan semakin optimal.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum PB IDI Kolonel Laut (Purn) dr. Wiweka, MARS menegaskan bahwa IDI hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional.
“IDI bukan oposisi pemerintah. Kami adalah mitra strategis yang hadir untuk bersama-sama mencari solusi bagi pelayanan kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental tenaga kesehatan, perlindungan dokter muda, serta penguatan disiplin organisasi di tengah dinamika profesi kedokteran yang terus berkembang.
Panitia pelaksana mencatat Muswil IDI Jawa Timur 2026 diikuti 156 peserta dari 34 cabang IDI se-Jawa Timur serta 30 peserta dari 21 perhimpunan dokter spesialis. Forum ini diharapkan melahirkan keputusan strategis sekaligus memperkuat regenerasi kepemimpinan organisasi profesi kedokteran di Jawa Timur.
