NEWS

Curug Ciranca di Perbukitan Dukupuntang Jadi Wisata yang Eksotik

Cirebon - Langkah demi langkah mulai menapaki jalan setapak yang membelah ilalang, dan kabut tipis masih menggantung di sela perbukitan.


Dari kejauhan, suara gemericik air terdengar, bersahut dengan angin yang mengusap pucuk-pucuk daun.

Selama perjalanan, hamparan sawah tampak seperti permadani hijau yang belum selesai ditenun. Suara burung liar kadang-kadang mengganggu sunyi.

Jalanan kecil yang melintasi Desa Girinata, Desa Cipanas, dan Desa Kedongdong Kidul perlahan membawa orang-orang menjauh dari hiruk-pikuk kota menuju tempat yang tampaknya disembunyikan oleh alam.

Curug Ciranca berdiri dengan tenang di Desa Kedondong Kidul, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, di balik jalur penjejakan yang cukup sulit.

Air terjun setinggi sekitar tiga puluh meter jatuh deras dari tebing batu yang kokoh. Aliran airnya terlihat seperti sehelai kain putih panjang yang jatuh dari langit perbukitan dari jarak jauh.

Dedaunan liar di sekitarnya basah oleh kabut halus yang dibentuk oleh percikan airnya.

Tidak ada deretan bangunan modern atau lampu wisata di tempat ini. Curug Ciranca menarik karena sederhananya.

Alam dibiarkan berkembang biak dengan caranya sendiri. Sungai kecil yang mengalir jernih di bawah curug membelah bebatuan, tebing-tebing batu menjulang bebas, dan akar-akar pohon menggantung liar.

Perjalanan menuju titik air terjun tidak mudah. Perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui jalan setapak, pematang sawah, hingga pinggiran sungai setelah kendaraan diparkir di sekitar permukiman warga atau area kantor desa.

Pengalaman itu benar-benar utuh di beberapa bagian jalur, terutama setelah hujan.

Setiap pijakan mengajarkan Anda untuk menikmati perjalanan lebih lama. Ada banyak pengunjung yang berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan perbukitan hijau di sekitarnya.

Ada juga orang yang sengaja duduk di batu-batu sungai, membiarkan suara alam mengatur percakapan mereka.

Para pelancong lokal sekarang menyebut Curug Ciranca sebagai "gempar tersembunyi". Tempatnya yang tersembunyi membuatnya tetap terasa alami. Karakter asli tidak dihilangkan dengan banyak perubahan.

Airnya juga dikenal sangat segar karena berasal dari mata air pegunungan langsung.

Sebagian orang menganggap Curug Ciranca sebagai tempat wisata dan tempat untuk bersantai dari kebisingan kehidupan sehari-hari.

Suara air jatuh tanpa henti membuat waktu terasa lebih lambat. Telefon genggam tidak lagi menarik. Diam, mendengar, dan merasakan adalah tujuan orang-orang yang datang.

Menurut Nana Surana, Penjabat Kuwu Desa Kedondong Kidul, Curug Ciranca selalu menarik pengunjung, terutama pada akhir pekan.

Nana mengatakan kepada saya pada Jumat (8/5/2026), "Setiap akhir pekan, Curug Ciranca ramai dikunjungi untuk menikmati keindahan alamnya."

Nana mengatakan bahwa banyak orang yang datang ke sini dari berbagai daerah di sekitar Kabupaten Cirebon untuk menikmati suasana alam yang masih asri.

Sebagian besar orang dengan sengaja mencari lokasi yang jauh dari hiruk pikuk wisata modern.

Meskipun demikian, pengunjung harus mempersiapkan diri sebelum datang karena jalan menuju curug alami.

Nana mengatakan, "Pengunjung yang akan ke Curug Ciranca diimbau untuk menggunakan sepatu atau sandal tracking gunung."

Saran itu masuk akal. Beberapa jalur penuh dengan ilalang dan batu licin. Namun, bagi pecinta alam, medan ini memberi mereka sensasi petualangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Menikmati makan siang sederhana di atas batu sungai atau menikmati kopi hangat sambil melihat aliran air, pengunjung biasanya datang ke curug dengan bekal sendiri.

Anak-anak muda sering mengambil foto dengan kamera, sementara sebagian lainnya memilih bermain air di tepian sungai.

Meskipun belum menjadi destinasi wisata yang populer, Curug Ciranca secara bertahap mendapatkan popularitas melalui cerita dari mulut ke mulut dan media sosial.

Tebing batu dan aliran airnya yang megah sering diabadikan di lini masa para pelancong.

Bagi penduduk Desa Kedondong Kidul, kehadiran Curug Ciranca membawa optimisme. Mereka berharap alam yang mereka jaga selama ini dapat menguntungkan ekonomi tanpa mengorbankan keasriannya.

Nana menyimpulkan, "Kami berharap Curug Ciranca ini menjadi destinasi wisata yang dapat meningkatkan ekonomi Desa Kedondong Kidul."

Meskipun tampak sederhana, harapan memiliki makna yang signifikan. Tempat-tempat seperti Curug Ciranca mengingatkan bahwa alam bukan sekadar tempat untuk dikunjungi tetapi ruang yang harus dijaga bersama di tengah kecepatan perubahan dan pembangunan.

Cahaya matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan menjelang sore. Air Curug Ciranca masih mengalir dengan suara yang sama, tenang dan deras, mengisi kesendirian perbukitan Dukupuntang.

Dengan hati yang sedikit lebih ringan, orang-orang mulai beranjak pulang dengan pelan, membawa baju yang basah oleh percikan air.

Mungkin, itulah cara alam bekerja. Ia tidak banyak berbicara, tetapi dia selalu bisa membuat orang pulang dengan berbagai perasaan.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar